Skip to main content

PENDEKATAN SOSIOLOGIS DALAM STUDI ISLAM

 

PENDEKATAN SOSIOLOGIS DALAM STUDI ISLAM


BAB I

PENDAHULUAN

 

A.    Latar Belakang

Agama seringkali menjadi bahan terjadinya permasalahan, namun ia juga kemudian menjadi bahan untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi di masyarakat. Oleh sebab itu, maka menjadi urgen kondisi-kondisi tersebut untuk dipahami dengan menggunakan pendekatan-pendekatan yang relevan, salah satunya yaitu pendekatan sosiologis. Pendekatan sosiologis merupakan pendekatan atau suatu metode yang pembahasannya atas suatu objek yang dilandaskan pada masyarakat yang ada pada pembahasan tersebut. Berdasarkan perkembangan ilmu pengetahuan kontemporer, ilmu ini digunakan sebagai salah satu metode dalam rangka memahami dan mengkaji agama. Hal ini bertujuan untuk mengimplementasikan pemahaman ajaran dalam kehidupan yang universal.

Masalah pendekatan sosiologis dalam memahami agama dapat dipahami karena banyak sekali ajaran agama yang berkaitan dengan masalah sosial. Namun dewasa ini, sosiologi agama mempelajari bagaimana agama mempengaruhi masyarakat dan boleh jadi agama masyarakat mempengaruhi konsep agama. Pendekatan sosiologi memiliki peranan yang sangat penting dalam usaha untuk memahami dan menggali makna-makna yang sesungguhnya dikehendaki oleh Al-Quran. Selain disebabkan oleh Islam sebagai agama yang lebih mengutamakan hal-hal yang berbau sosial daripada individual yang terbukti dengan banyaknya ayat Al-Quran dan Hadis yang berkenaan dengan urusan muamalah (sosial). Hal ini juga disebabkan banyak kisah dalam Al-Quran yang kurang bisa dipahami dengan tepat kecuali dengan pendekatan sosiologi. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penulis mengangkat judul “Pendekatan Sosiologis dalam Studi Islam” dalam makalah ini.

 

B.     Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah makalah ini sebagai berikut.

1.      Bagaimana pengertian pendekatan sosiologi?

2.      Bagaimana perkembangan sosiologi?

3.      Bagaimana karakteristik dasar pendekatan sosiologi?

4.      Bagaimana objek kajian dalam pendekatan sosiologi?

5.      Bagaimana pendekatan sosiologis dalam studi Islam?

6.      Bagaimana signifikansi dan kontribusi pendekatan sosiologis dalam studi Islam?

 

C.    Tujuan Penulisan

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penulisan makalah ini sebagai berikut.

1.      Menjelaskan pengertian pendekatan sosiologi.

2.      Menjelaskan perkembangan sosiologi.

3.      Menjelaskan karakteristik dasar pendekatan sosiologi.

4.      Menjelaskan objek kajian dalam pendekatan sosiologi.

5.      Menjelaskan pendekatan sosiologis dalam studi Islam.

6.      Menjelaskan signifikansi dan kontribusi pendekatan sosiologis dalam studi Islam.

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.    Pengertian Pendekatan Sosiologi

Sosiologi berasal dari Bahasa Latin yaitu socius yang artinya kawan, teman. Sedangkan logos artinya ilmu pengetahuan. Sosiologi umumnya diartikan dengan ilmu pengetahuan tentang masyarakat. Sosiologi mempelajari masyarakat, yang meliputi gejala-gejala sosial, struktur sosial, perubahan sosial dan jaringan hubungan atau interaksi manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial.[1]

Sosiologi memiliki berbagai paradigma untuk mengkaji suatu masalah, sehingga sosiologi merupakan ilmu sosial yang berparadigma ganda. Sosiologi pada hakikatnya bukanlah semata-mata ilmu murni (pure science) yang hanya mengembangkan ilmu pengetahuan secara abstrak demi usaha peningkatan kualitas ilmu itu sendiri, namun sosiologi juga bisa menjadi ilmu terapan (applied science) yang menyajikan cara-cara untuk mempergunakan pengetahuan ilmiahnya guna memecahkan masalah praktis atau masalah sosial yang perlu ditanggulangi. Saat ini banyak definisi sosiologi, berikut definisi sosiologi menurut para ahli.

1.      Pitirim Sorokin: Sosioogi adalah ilmu yang mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala sosial (misalnya gejala ekonomi, gejala keluarga dan gejala moral), sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik antara gejala sosial dengan gejala non-sosial, dan yang terakhir, sosiologi adalah ilmu yang mempelajari ciri-ciri umum semua jenis gejala-gejala sosial lain.

2.      Roucek dan Warren: Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dalam kelompok-kelompok.

3.      William F. Ogburn dan Mayer F. Nimkopf: Sosiologi adalah penelitian secara ilmiah terhadap interaksi sosial dan hasilnya, yaitu organisasi sosial.

4.      J.A.A Von Dorn dan C.J. Lammers: Sosiologi adalah ilmu pengetahuan tentang struktur-struktur dan proses-proses kemasyarakatan yang bersifat stabil.

5.      Max Weber: Sosiologi adalah ilmu yang berupaya memahami tindakan-tindakan sosial.

Berdasarkan beberapa definisi tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa sosiologi merupakan ilmu yang membicarakan apa yang sedang terjadi saat ini, khususnya pola-pola hubungan dalam masyarakat serta berusaha mencari pengertian-pengertian umum, rasional, empiris serta bersifat umum.[2] Pendekatan sosiologis merupakan pendekatan atau suatu metode yang pembahasannya atas suatu objek yang dilandaskan pada masyarakat yang ada pada pembahasan tersebut.[3]

 

B.     Sekilas tentang Perkembangan Sosiologi

Semenjak kelahirannya, sosiologi concern dengan studi agama. Meskipun perhatiannya terkadang menguat dan melemah. Karya-karya founding fathers sosiologi, termasuk Comte, Durkheim, Max dan Weber, sering mengacu pada wacana-wacana sosiologis atau studi perilaku dan sistem keyakinan keagamaan. Namun demikian, pada pertengahan abad 20, para sosiolog di Eropa atau Amerika Utara melihat bahwa agama memiliki signifikansi marginal dalam dunia sosial dan sosiologi agama bergerak dalam garis tepi studi sosiologis.

Seiring dengan datangnya postmodernitas (high or late modernity) dan bangkitnya agama dalam beragam konteks global, agama kembali memperoleh signifikansi sosiologis baik dalam masyarakat yang sedang berkembang maupun di Eropa dan Amerika Utara. Konsekuensinya studi sosiologi terhadap agama mulai keluar dari garis tepi disiplinnya dan memanifestasikan tumbuhnya minat pada mainstream sosiologis yang memfokuskan perhatiannya sekitar persoalan ekologi dan perwujudan, gerakan dan protes sosial, globalisasi, nasionalisme dan postmodernitas.

Menurut anggapan umum, Aguste Comte dan Henri Saint Simon adalah pendiri sosiologi. Bagi Comte, sosiologi mengikuti jejak ilmu alam. Observasi empiris terhadap masyarakat akan melahirkan kajian rasional dan positivistik mengenai kehidupan sosial yang akan memberikan prinsip-prinsip pengorganisasian bagi ilmu kemasyarakatan. Dalam pandangan Comte, bentuk positivistik konsepsi sosiologis akan membawa konsekuensi hilangnya agama dan teologi sebagai model perilaku dan keyakinan dalam masyarakat modern.

Sedangkan Durkheim, dalam kajian sosiologinya memfokuskan agama pada aspek fungsi, dimana agama dilihat sebagai jembatan ketegangan dengan suku atau kelompok lain, karena agama sering kali melahirkan keteraturan sosial dan moral, mengikat anggota masyarakat dalam suatu proyeksi kebersamaan, sekumpulan nilai dan tujuan sosial bersama. Kondisi inilah yang memperkuat fanatisme kelompok sosial sehingga saat berhadapan dengan kelompok lain yang berbeda agama, akan sangat mudah memunculkan ketegangan antar kelompok.

Setelah Durkheim, kajian sosiologi terhadap agama mengalami perkembangan yang cukup signifikan, misalnya muncul sosiolog yang bernama Talcott Parsons, Robert Bellah, Bryan Wilson, Karl Max, Max Weber dan beberapa sosiolog lainnya yang cukup serius mengkaji agama dengan pendekatan sosiologi, kendatipun banyak diantaranya yang memperkuat paham sekuler.[4]

 

 

C.    Karakteristik Dasar Pendekatan Sosiologi

Teorisasi sosiologis tentang karakteristik agama serta kedudukan dan signifikansinya dalam dunia sosial, mendorong untuk diterapkannya serangkaian kategori sosiologis yang melupiti:

1.      Stratifikasi sosial, seperti kelas dan etnisitas.

2.      Kategori biososial, seperti gender, perkawinan, keluarga, masa kanak-kanak dan usia.

3.      Pola organisasi sosial seperti politik, poduksi ekonomis, sistem pertukaran dan birokrasi.

4.      Proses sosial, seperti formasi batas, relasi intergroup, interaksi personal, penyimpangan dan globalisasi.

Peran kategori-kategori dalam studi sosiologi terhadap agama ditentukan oleh pengaruh paradigma utama sosiologi dan oleh refleksi empiris dari organisasi dan perilaku keagamaan. Paradigma fungsionalis yang mula-mula berasal dari Durkheim dan kemudian dikembangkan oleh sosiolog Amerika Utara Talcott Parsons, secara khusus memiliki pengaruh kuat dalam sosiologi agama. Parsons melihat bahwa masyarakat adalah suatu sistem sosial yang dapat disamakan dengan ekosistem. Bagian-bagian unsur sistem sosial memiliki fungsi esensial kuasi organik yang memberikan kontribusi terhadap kesehatan dan vitalitas sistem sosial serta dapat menjamin kelangsungan hidup manusia.

Sedangkan bagi Bryon Wilson, agama memiliki fungsi manifes dan fungsi laten. Fungsi manifesnya adalah memberikan keselamatan identitas personal dan jiwa bagi laki-laki dan perempuan. Sedangkan fungsi latennya adalah memberdayakan personal dan spiritual dalam menghadapi gangguan emosional inner, kondisi spiritual dan upaya untuk menghadapi ancaman keimanan dan penyembahan.

Untuk mendapatkan gambaran dari persoalan-persoalan yang dikaji, para sosiolog menggunakan dua corak metodologi penelitian, yaitu kuantitatif dan kualitatif. Penelitian kuantitatif dalam sosiologi agama disandarkan pada skala besar survey terhadap keyakinan keagamaan, nilai-nilai etis dan praktik kehadiran di gereja. Pendekatan seperti ini digunakan oleh Rodney Stark dan William Bainbridge dalam The Future of Religion saat mengumpulkan sejumlah besar database statistik nasional dan regional tentang kehadiran di gereja dan keanggotaan peribadatan dalam upaya menghasilkan teori sosial yang telah direvisi mengenai posisi agama dalam masyarakat modern.

Penelitian kualitatif terhadap agama disandarkan pada komunitas atau jamaah keagamaan dalam skala kecil dengan menggunakan metode seperti pengamatan partisipan atau wawancara mendalam. Metode ini diprakarsai oleh Max Weber dan kemudian disempurnakan oleh Ernst Troeltsch dari Jerman.[5]

Teoritas sosiologis, menggunakan paradigma dan konseptualitas analogis tentang dunia sosial yang didasarkan pada tradisi sosiologis maupun refleksi atas data empiris yaitu melalui investigasi historis dan penelitian sosial kontemporer. Pendekatan kualitatif didasarkan pada skala besar survei terhadap keyakinan-keyakinan keagamaan, nilai-nilai etis dan praktik-praktik ritual. Pendekatan kualitatif dalam panel sosial terhadap agama didasarkan pada studi komunitas-komunitas keagamaan dalam skala kecil dengan metode penyelamatan partisipan atau wawancara.[6]

Jelasnya kedua pendekatan tersebut (kuantitatif dan kualitatif) dapat digunakan untuk meneliti agama melalui pendekatan sosiologi. Visi intelektual dalam pendekatan sosiologi adalah bersifat sosialis, pelaksanaan dari segala seruan agama tersebut adalah umat manusia. Dan manusialah yang paling dominan dalam proses perubahan tersebut. Sehingga tidak menutup kemungkinan bahwa manusialah yang menjadi pemersatu dalam suatu perubahan yang sangat monumental dan diakui.[7]

 

 

D.    Objek Kajian dalam Pendekatan Sosiologi

Pendekatan sosiologi agama dapat mengambil beberapa tema atau objek penelitian sebagai berikut.

1.      Studi tentang pengaruh agama terhadap perubahan masyarakat.

2.      Studi tentang pengaruh struktur dan perubahan masyarakat terhadap pemahaman ajaran atau konsep keagamaan.

3.      Studi tentang tingkat pengalaman beragama masyarakat.

4.      Studi pola interaksi sosial masyarakat muslim.

5.      Studi tentang gerakan masyarakat yang membawa paham yang dapat melemahkan atau menjunjung kehidupan beragama.

Setiap tema yang dikaji, setidaknya tetap relevan dengan teori sosiologi, baik teori fungsionalisme, konflik maupun interaksionalisme. Teori fungsionalisme dan konflik bekerja dengan cara analisis makro sosiologi yaitu memfokuskan perhatiannya pada struktur sosial. Adapun teori interaksionalisme dengan cara analisis mikro, yaitu lebih memfokuskan perhatiannya pada karakteristik personal dan interaksi yang terjalin antar individu.[8]

 

E.     Pendekatan Sosiologis dalam Studi Islam

Sejak awal permulaan sejarah manusia, agama sudah terdapat pada semua lapisan masyarakat dan seluruh tingkat kebudayaan. Dewasa ini kehadiran agama semakin dituntut untuk terlibat secara aktif dalam memecahkan berbagai masalah yang dihadapi umat manusia. Agama tidak boleh dijadikan sekadar lambang kesolehan atau berhenti sekadar disampaikan dalam khutbah, melainkan secara konsepsional, menunjukkan cara-cara yang paling efektif dalam memecahkan masalah.

Tuntutan terhadap agama seperti itu dapat dijawab manakala pemahaman agama yang selama ini banyak menggunakan pendekatan teologis normatif dilengkapi dengan pemahaman agama yang menggunakan pendekatan lain yang secara operasional konseptual dapat memberikan jawaban terhadap masalah yang timbul.

Berbagai pendekatan tersebut meliputi pendekatan teologis normatif, antropologis, sosiologis, psikologis, historis, kebudayaan dan filosofis. Adapun yang dimaksud dengan pendekatan di sini adalah cara pandang atau paradigma yang terdapat dalam suatu bidang ilmu yang selanjutnya digunakan dalam memahami agama. Dalam hubungan ini, agama dapat diteliti menggunakan berbagai paradigma. Realitas keagamaan yang diungkapkan mempunyai nilai kebenaran sesuai dengan kerangka paradigmanya. Oleh karena itu, tidak ada persoalan apakah penelitian agama itu penelitian ilmu sosial, penelitian legalistik atau penelitian filosofis.

Pentingnya pendekatan sosiologis dalam memahami agama dapat dipahami karena banyak sekali ajaran agama yang berkaitan dengan masalah sosial. Besarnya perhatian agama terhadap masalah sosial ini, selanjutnya mendorong kaum agama memahami agamanya. Berikut alasan betapa besarnya perhatian agama Islam terhadap masalah sosial.

1.      Dalam Al-Quran atau Hadis, proporsi terbesar kedua sumber hukum Islam tersebut berkenaan dengan urusan muamalah. Perbandingan antara ayat-ayat ibadah dengan ayat yang menyangkut kehidupan sosial adalah 1:100. Untuk satu ayat ibadah ada seratus ayat muamalah (masalah sosial).

2.      Bahwa ditekannya masalah muamalah atau sosial dalam masalah Islam adalah adanya kenyataan bahwa bila urusan ibadah bersamaan waktunya dengan urusan muamalah yang penting, maka ibadah boleh diperpendek atau ditangguhkan, tentu bukan ditinggalkan melainkan dengan tetap dikerjakan sebagaimana mestinya.

3.      Bahwa ibadah yang mengandung segi kemasyarakatan diberi ganjaran lebih besar daripada ibadah yang bersifat perseorangan, karena itu shalat yang dilakukan berjamaah lebih tinggi nilainya daripada shalat yang dikerjakan sendirian.

4.      Dalam Islam terdapat ketentuan bila urusan ibadah tidak dilakukan dengan sempurna atau batal, maka kifaratnya (tebusannya) ialah melakukan sesuatu yang berhubungan dengan masalah sosial.

5.      Dalam Islam terdapat ajaran bahwa amal baik dalam bidang kemasyarakatan mendapat amalan lebih besar daripada ibadah sunnah.

Berdasarkan pemahaman kelima alasan di atas, maka melalui pendekatan sosiologis, agama akan dapat dipahami dengan mudah, karena agama itu sendiri diturunkan untuk kepentingan sosial. Dalam Al-Quran misalnya dijumpai ayat-ayat berkenaan dengan hubungan manusia dengan manusia lainnya, sebab-sebab yang menyebabkan terjadinya kemakmuran suatu bangsa dan sebab-sebab yang menyebabkan terjadinya kesengsaraan. Semua itu hanya baru dapat dijelaskan apabila yang memahaminya mengetahui sejarah sosial pada ajaran agama yang diturunkan.[9]

 

F.     Signifikansi dan Kontribusi Pendekatan Sosiologis dalam Studi Islam

Pendekatan sosiologis digunakan sebagai salah satu pendekatan dalam memahami agama. Hal demikian dapat dimengerti, karena banyak bidang kajian agama baru dapat dipahami secara proporsional dan tepat apabila menggunakan jasa bantuan dari ilmu sosiologi. Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hidup bersama dalam masyarakat dan menyelidiki ikatan-ikatan antara manusia yang menguasai hidupnya itu. Sosiologi mencoba mengerti sifat dan maksud hidup bersama, cara terbentuk dan tumbuh serta berubahnya perserikatan-perserikatan hidup itu serta kepercayaan, keyakinan yang memberi sifat tersendiri kepada cara hidup bersama itu dalam tiap persekutuan hidup manusia.

Dari definisi tersebut terlihat bahwa sosiologi adalah suatu ilmu yang menggambarkan tentang keadaan masyarakat lengkap dengan struktur, lapisan serta berbagai gejala sosial lainnya yang saling berkaitan. Dengan ilmu itu suatu fenomena sosial dapat dianalisis dengan faktor-faktor yang mendorong terjadinya hubungan, mobilitas sosial serta keyakinan-keyakinan yang mendasari terjadinya proses tersebut.

Melalui pendekatan sosiologis, agama dapat dipahami dengan mudah karena agama itu sendiri itu diturunkan untuk kepentingan sosial. Dalam Al-Quran misalnya, kita jumpai ayat-ayat berkenaan dengan hubungan manusia lainnya, sebab-sebab yang menyebabkan kesengsaraan. Semua itu jelas baru dapat dijelaskan apabila yang memahaminya mengetahui sejarah sosial pada saat ajaran agama itu diturunkan.[10]


G.     

BAB III

PENUTUP

 

A.    Simpulan

Berdasarkan penjelasan tentang pendekatan sosiologis dalam studi Islam, maka dapat disimpulkan sebagai berikut.

1.      Pendekatan sosiologis merupakan pendekatan atau suatu metode yang pembahasannya atas suatu objek yang dilandaskan pada masyarakat yang ada pada pembahasan tersebut.

2.      Kajian sosiologi terhadap agama mengalami perkembangan yang cukup signifikan, misalnya muncul sosiolog yang bernama Talcott Parsons, Robert Bellah, Bryan Wilson, Karl Max, Max Weber.

3.      Karakteristik dasar pendekatan sosiologi meliputi: stratifikasi sosial, kategori biososial, pola organisasi sosial dan proses sosial.

4.      Objek kajian dalam pendekatan sosiologi meliputi: studi tentang pengaruh agama terhadap perubahan masyarakat, pola interaksi sosial masyarakat muslim, serta tingkat pengalaman beragama masyarakat.

5.      Melalui pendekatan sosiologis, agama akan dapat dipahami dengan mudah, karena agama itu sendiri diturunkan untuk kepentingan sosial.

6.      Pendekatan sosiologis digunakan sebagai salah satu pendekatan dalam memahami agama karena banyak bidang kajian agama baru dapat dipahami secara proporsional menggunakan jasa bantuan ilmu sosiologi.

 

B.     Saran

Berdasarkan penjelasan materi mengenai pendekatan sosiologis dalam studi Islam, maka penulis menyarankan kepada para pembaca untuk memahami konsep pendekatan sosiologis. Melalui pendekatan sosiologis, agama akan dapat dipahami dengan mudah, karena agama itu sendiri diturunkan untuk kepentingan sosial.

DAFTAR PUSTAKA

 

Adibah, Ida Zahara.Pendekatan Sosiologis dalam Studi Islam”. Jurnal Inspirasi 1, no. 1 (2017).

 

Khoiruddi, M. Arif.Pendekatan Sosiologi dalam Studi Islam. 25, no. 2 (2014).

 

Mahyudi, Dedi.Pendekatan Antropologi dan Sosiologi dalam Studi Islam. Ihya’ Al-Arabiyah (2016).

 

Rifa’i, Moh.Kajian Masyarakat Beragama Perspektif Pendekatan Sosiologis. Jurnal Manajemen Pendidikan Islam 2, no. 1 (2018).



[1] Dedi Mahyudi, “Pendekatan Antropologi dan Sosiologi dalam Studi Islam, Ihya’ Al-Arabiyah (2016): 207-208.

[2] Ida Zahara Adibah, “Pendekatan Sosiologis dalam Studi Islam”, Jurnal Inspirasi 1, no. 1 (2017): 4-6.

[3] Moh. Rifa’i, “Kajian Masyarakat Beragama Perspektif Pendekatan Sosiologis, Jurnal Manajemen Pendidikan Islam 2, no. 1 (2018): 23.

[4] Dedi Mahyudi, “Pendekatan Antropologi dan Sosiologi dalam Studi Islam, Ihya’ Al-Arabiyah (2016): 212-213.

[5] Dedi Mahyudi, “Pendekatan Antropologi dan Sosiologi dalam Studi Islam, Ihya’ Al-Arabiyah (2016): 214-215.

[6] Moh. Rifa’i, “Kajian Masyarakat Beragama Perspektif Pendekatan Sosiologis, Jurnal Manajemen Pendidikan Islam 2, no. 1 (2018): 33.

[7] Dedi Mahyudi, “Pendekatan Antropologi dan Sosiologi dalam Studi Islam, Ihya’ Al-Arabiyah (2016): 215.

[8] Dedi Mahyudi, “Pendekatan Antropologi dan Sosiologi dalam Studi Islam, Ihya’ Al-Arabiyah (2016): 216.

[9] M. Arif Khoiruddin, “Pendekatan Sosiologi dalam Studi Islam, 25, no. 2 (2014): 402-404.

[10] Dedi Mahyudi, “Pendekatan Antropologi dan Sosiologi dalam Studi Islam, Ihya’ Al-Arabiyah (2016): 226.

Comments

Popular posts from this blog

Dasar-Dasar Akuntansi

.. Let’s Study! Have a nice day! Merajut Asa Meraih Cita-Cita Semangat Belajar Menggapai Masa Depan Cerah Mata Kuliah Dasar-Dasar Akuntansi Dosen Pengampu Dwi Putri Restuti, M. E. Deskripsi Mata Kuliah Pembelajaran dari mata kuliah Dasar-Dasar Akuntansi adalah memberikan wawasan tentang konsep-konsep dasar akuntansi dan hubungannya dengan pengambilan keputusan, penerapan siklus akuntansi pada perusahaan sektor jasa, dagang dan manufaktur. Mahasiswa belajar   pengertian, fungsi, teori, profesi akuntansi; konsep PDA; mekanisme penjurnalan; posting ke buku besar; neraca saldo; jurnal penyesuaian; kertas kerja; laporan keuangan; jurnal penutup; jurnal pembalik dan proses pengambilan keputusan berdasarkan informasi keuangan. RPS File RPS Dasar-Dasar Akuntansi Introduction Islam Rahmatan Lil 'Alamin   Moderasi Beragama Tracer Study Materi Pembelajaran 1. Konsep Dasar Akuntansi 2. Katogeri Akun dan Persamaan Dasar Akuntansi 3. Pedoman Pengisian Akun 4.  Jurnal Umum Perusahaa...

Analisis Laporan Keuangan UMKM

  .. Let’s Study! Have a nice day! Merajut Asa Meraih Cita-Cita Semangat Belajar Menggapai Masa Depan Cerah Mata Kuliah Analisis Laporan Keuangan UMKM Dosen Pengampu Dwi Putri Restuti, M. E. Deskripsi Mata Kuliah Pembelajaran dari mata kuliah Analisis Laporan Keuangan UMKM adalah memberikan wawasan sebagai pengguna laporan keuangan dalam analisis dan proses evaluasi prospek ekonomi dan risiko perusahaan pada analisis bisnis yang berguna dalam pengambilan keputusan bisnis, yang meliputi analisis laporan keuangan berdasarkan hasil pengukuran rasio keuangan likuiditas, solvabilitas, aktivitas dan profitabilitas. RPS File RPS Analisis Laporan Keuangan UMKM   Introduction Moderasi Beragama Tracer Study Materi Pembelajaran 1.    Pengantar Analisis Laporan Keuangan (Sub CP-MK1) 2.    Metode Analisis Laporan Keuangan (Sub CP-MK1) 3.    Analisis Laporan Laba Rugi (Sub CP-MK1) 4.    Analisis Laporan Arus Kas (Sub CP-MK1) 5.    Anal...

Manajemen Aset Dana Sosial Syariah

.. Let’s Study! Have a nice day! Merajut Asa Meraih Cita-Cita Semangat Belajar Menggapai Masa Depan Cerah Mata Kuliah Manajemen Aset Dana Sosial Syariah Dosen Pengampu Dwi Putri Restuti, M. E. Deskripsi Mata Kuliah Pembelajaran dari mata kuliah Manajemen Aset Dana Sosial Syariah adalah mahasiswa belajar tentang konsep, prinsip, dan praktik manajemen aset dana sosial syariah, khususnya yang bersumber dari zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ZISWAF). Materi mencakup perencanaan, penghimpunan, pengelolaan, pendistribusian, pelaporan, serta pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan aset sosial syariah. RPS File RPS   Manajemen Aset Dana Sosial Syariah Introduction Moderasi Beragama Tracer Study Materi Pembelajaran 1. Pengantar Manajemen Aset Dana Sosial Syariah (Sub CP-MK1) 2. Konsep ZISWAF dan urgensinya dalam pembangunan ekonomi (Sub CP-MK2) 3. Prinsip syariah dalam pengelolaan aset sosial (Sub CP-MK2) 4. Lembaga pengelola dana sosial syariah: BAZNAS, LAZ, Nadzir (Sub CP-MK2) 5. S...