BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Manusia pada dasarnya bukanlah makhluk yang sangat luar biasa, karena kita juga berasal dari sumber evolusi yang sama sebagaimana halnya spesies lainnya. Seleksi alam gen yang telah memberikan kita (manusia) tubuh dan otak. Namun demikian, otak yang diberikan oleh seleksi alam kepada kita adalah otak dengan ukuran yang luar biasa besarnya, sedemikian besarnya sehingga otak dapat melakukan sesuatu yang luar biasa.
Kata evolusi mungkin tidak asing lagi di telinga kita semua. Evolusi adalah cabang ilmu biologi yang mempelajari tentang perubahan struktur gen dalam jangka waktu yang lama. Evolusi secara harfiah dapat dikatakan sebagai suatu proses spesiasi (pembentukkan spesies). Evolusi juga dapat dikatakan sebagai suatu cabang ilmu yang menjelaskan bagaimana keanekaragaman hayati terjadi.
Dengan menggunakan bahasa dan budaya, manusia telah membentuk masyarakat dimana terjadi evolusi seperti yang dikatakan oleh teori Darwin. Beliau mengatakan bahwa spesies hidup sekarang berasal dari spesies lain yang hidup dimasa lampau. Dan bila diurut lebih lanjut, semua spesies makhluk hidup termasuk manusia diturunkan dari nenek moyang yang sama. Darwin menjelaskan bahwa manusia berasal dari kera.
Anggapan bahwa konsep-konsep evolusi tersebut hanya berkaitan dengan bidang studi biologi dan berpengaruh sedikitpun terhadap kehidupan sehari-hari. Anggapa ini sangat keliru sebab teori ini ternyata lebih dari sekedar konsep biologi. Teori evolusi kini masih menjadi pertanyaan besar setiap manusia, tapi pada dasarnya sekarang ini dari sisi agama meyakini bahwa manusia itu ada karena ada yang menciptakan, sedangkan pada sisi biologi manusia itu ada karena adanya pertemuan sel sperma dan sel ovum. Dalam ajaran yang dianut oleh Islam Adam adalah nenek moyang dari manusia yang secara notabene adalah manusia pertama di muka bumi.
Dari uraian – uraian tersebut maka penulis makalah yang berjudul “Teori Charles Darwin” guna mengetahui lebih dalam tentang pendapat dari tokoh tersebut dan bisa digunakan untuk bahan ajar dalam materi biologi kelas XII.
1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang yang sudah dijelaskan maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimanakah penjelasan tentang teori evolusi Charles Darwin?
2. Apa saja bukti-bukti dari teori yang dijelaskan oleh Charles darwin?
3. Apakah penemuan ilmiah membantah atau bahkan mendukung teori Charles Darwin mengenai Teori Evolusi?
1.3 Tujuan
Berdasarakan rumusan masalah di atas maka tujuan dari pembuatan makalah ini antara lain :
1. Dapat menjelaskan teori evolusi yang dikemukakan oleh Charles Darwin.
2. Dapat menjelaskan bukti-bukti yang mendukung teori evolusi menurut Charles Darwin.
3. Dapat menjelaskan tanggapan-tanggapan dari penemuan ilmiah tentang teori evolusi Charles Darwin.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Penjelasan tentang Teori Evolusi Charles Darwin.
2.1.1 Sejarah Darwin
Charles Darwin (1809 – 1882) lahir di Shrewsbury di Ingris bagian barat. Bahkan sebagai seorang anak kecil, ia sudah memiliki minat yang sangat besar pada alam. Ketika ia tidak sedang membaca buku mengenai alam, ia akan memancing, berburu, dan mengumpulkan serangga. Ayah Darwin, seorang dokter yang sangat terhormat dan terkenal, melihat bahwa tidak ada masa depan bagi ahli ilmu alam, maka ayahnya menyekolahkan Charles ke University of Endinburgh untuk belajar kedokteran.
Gambar 2.1 Foto Charles Darwin
Berumur 16 tahun pada masa itu, Charles merasa bahwa sekolah kedokteran sangat membosankan dan memuakkan. Meskipun ia berhasil mendapatkan nilai dan angka yang baik, ia meninggalkan sekolahnya tanpa gelar dan kemudian mendaftarkan dirinya di Christ College di Cambridge University, dengan harapan menjadi seorang imam.
Pada masa itu di Britsnia Raya, sebagian besar ahli ilmu alam dan sains lainnya masuk dalam kelompok imam. Darwin menjadi murid dari pastur John Henslow, professor botani di Crambidge University. Segera setelah Darwin menerima gelar BA pada tahun 1831, professor Henslow merekomendasikan lulusan muda tersebut ke kapten Robert Fitz Roy, yang sedang mempersiapkan kapal survey Beagle untuk suatu pelayaran mengelilingi dunia.
a. Pelayaran Kapal HMS Beagle
Riset lapangan membantu Darwin membentuk pandangan mengenai suatu kehidupan. Saat Darwin berumur 22 Tahun, ketika ia berlayar dari Britania Raya pada bulan Desember 1831, misi utama pelayaran tersebut adalah mendata daerah-daerah di sepanjang rentangan garis pantai Amerika Selatan yang masih kurang dikenal saat itu.
Ketika anak buah kapal mengadakan survei di pesisir, Darwin menghabiskan sebagian besar waktunya di pantai, mengamati dan mengumpulkan ribuan specimen fauna dan flora yang eksotik dan beragam ketika kapal berlayar mengelilingi benua tersebut, Darwin mengamati berbagai adaptasi tumbuhan dan hewan yng menempati lingkungan yang sedemikian beranekaragam seperti hutan belantara Brasil, padang rumput luas Argentina, daerah terpencil Tierra del Fuego dekat antartika, dan ketinggian yang menjulang dari puncak pegunungan Andes.
Darwin menulis banyak sekali mengenai fauna dan flora dari berbagai daerah di Amerika Selatan. Ia mencatat bahwa tumbuhan dan hewan di benua itu memiliki ciri khas Amerika Selatan, yang sangat berbeda dari tumbuhan dan hewan di benua Eropa. Namun hak tersebut belum mencengangkan.
Darwin juga mencatat bahwa tumbuhan dan hewan di daerah yang beriklim sedang Amerika Selatan lebih dekat kekerabatannya dengan spesies yang hidup di daerah tropis benua tersebut di bandingkan dengan spesies di daerah yang beriklim sedang di daratan Eropa. Selain itu, fosil di Amerika Selatan yang ditemukan oleh Darwin, meskipun jelas berbeda dari spesies modern, sangat jelas khas Amerika Selatan dalam kemiripannya dengan tumbuhan dan hewan yang hidup di benua tersebut.
Gambar 2.2 HMS Beagle yang membawa Darwin ke berbagai tempat
Saat kapal Beagle berlayar dari Galapagos, Darwin telah selasai membaca buku lyell yang berjudul Principles of Geology. Ide Lyell, bersama-sama dengan pengalamnnya di kepulauan Galapagos, telah membuat Darwin meragukan pandangan gereja bahwa bumi adalah statis dan diciptkan hanya beberapa ribuan tahun yang lalu. Dengan mengakui bahwa bumi ini sudah sangat tua dan secara spontan berubah, Darwin telah mengambil langkah penting menuju pengenalan bahwa kehidupan di bumi juga telah berevolusi.
b. Pembelajaran Darwin pada adaptasi
Setelah kembali ke Britania Raya pada tahun 1836, Darwin mulai mengevaluasi kembali semua yang telah diamati selama pelayaran kapal beagle. Ia mulai memahami bahwa asal mula spesies baru dan adaptasi dengan lingkungan adalah dua proses yang saling berkaitan.
Dari kajian-kajian yang dilakukan bretahun-tahun setelah pelayaran Darwin, para ahli biologi telah menyimpulkan bahwa inilah yang terjadi pada burung fich di Galapagos itu. Satu diantara banyak perbedaan pada burung finh itu adalah paruhnya, yang telah diadaptasikan dengan makanan khas yang tersedia pada pulau tempat mereka tinggal. Darwin mengantisipasi bahwa menjelaskan bagaimana adaptasi seperti itu mucul, penting bagi pemahaman evolusi.
Gambar 2.3 Variasi dan bentuk paruh makanan pada burung Finch yang diamati Darwin
Pada awal tahun 1844-an Darwin telah mengetahui bagian-bagian penting dari teorinya mengenai seleksi alam sebagai mekanisme evolusi. Akan tetapi, ia masih belum mempublikasikan pemikirannya itu. Kesehatannya pada waktu itu dalam keadaan buruk, dan ia jarang sekali meninggalkan rumah. Namun demikian, ia tidak teisoslasi dari komunitas ilmiah.
Terkenal sebagai seseorang naturalis karena surat dan specimen yang dikirimnya ke Britania Raya selama pelayaran kapal beagle, Darwin sering sekali mengadakan korespondensi dan mendapat kunjungan dari Lyell Henslow, dan para sains lainnya.
2.1.2 Terjadinya Evolusi dan Seleksi Alam Sebagai Mekanisme Darwin
Darwinisme mempunyai arti ganda. Segi pertamanya adalah pengenalan evolusi sebagai penjelasan untuk kesatuan dan keanekaragaman kehidupan. Segi keduanya adalah konsep Darwinian mengenai seleksi alam sebagai akibat evolusi adaftif.
Teori Evolusi Charles Robert Darwin, masih menjadi perdebatan panjang hingga sampai saat ini. Teori ini menyebutkan bahwa manusia yang saat ini merupakan hasil evolusi dari spesies kera. Banyak pertentangan mengenai pernyataan tersebut. Evolusi secara umum tidak dapat terlepas dari kehidupan masa lampau. Hal yang saat ini, merupakan hasil dari proses masa lampau. Kita yang sekarang merupakan akibat dari bagaimana kita di masa lalu.
Gambar 2.4 Teori Darwin bahwa manusia berevolusi dari kera
a. Pewarisan dengan modifikasi
Darwin memandang adanya kesatuan dalam kehidupan, dimana semua organisme berkerabat melalui garis keturunan dari prototype yang tidak diketahui yang hidup pada zaman dahulu kala. Ketika turunan organisme itu terpencar ke berbagai habitat yang berbeda selama jutaan tahun, organisme itu akan mengakumulasi modifikasi atau adaptasi, yang beraneka ragam, yang membuat mereka menjadi cocok dengan suatu cara hidup tertentu.
Dalam pandangan Darwinian, sejarah kehidupan diibaratkan sebagai sebuah pohon dengan banyak sekali cabang yang memunculkan cabang-cabang yang lebih kecil lagi dari batang yang sama, terus sampai ke ujung ranting yang paling muda, suatu symbol keanekaragaman organisme hidup, pada setiap titik percabangan pohon evolusi itu terdapat nenek moyang dimiliki bersama oleh semua garis cabang evolusi dari titik percabangan tersebut.
Spesies yang erat sekali hubungannya, seperti singa dan harimau, memiliki banyak sifat dan ciri yang sama karena garis turunan nenek moyangnya sama sampai kecabang terkecil pada pohon kehidupan itu. Banyak cabang evolusi bahkan cabang utama sekalipun merupakan ujung buntu sekitar 99% dari semua spesies yang pernah hidup di bumi ini sudah punah.
Bagi Darwin, hirarki alamiah dari skema Linneaus mereflesikan geneologi bercabang dari pohon kehidupan dengan organisme pada level taksonomik yang berbeda dihubungkan melalui turunan dari nenek moyang yang sama. Jika kita bisa mengakui bahwa singa dan harimau lebih erat hubungan kekerabatannya di bandingkan antara singa dan kuda, maka kita telah mengakui bahwa evolusi telah meninggalkan dalam bentuk derajat kekerabatan yang berbeda diantar spesies modern.
Hal ini dikarenakan taksonomi adalah penemuan manusia dengan sendirinya. Akan tetapi, bersama dengan banyak bukti lain, implikasi taksonomi pada evolusi tidak mungkin keliru. Analisis genetik, misalnya membeberkan bahwa spesies yang seperti singa dan harimau, meskipun sangat erat hubungan kekeluargaannya atas dasar ciri anatominya dan kriteria lain, memang merupakan kerabat dekat dengan latar belakang hereditas yang sangat mirip.
b. Seleksi alam dan adaptasi
Ahli biologi evolosi Ernts Mayr telah menguraikan logika teori Darwin mengenai seleksi alam menjadi tiga inferensi berdasarkan lima observasi yaitu:
v Semua spesies memiliki potensi fertilitas yang sedemikian besar sehingga jumlah populasinya akan meningkat secara eksponensial jika semua individu yang dilahirkan berhasil berproduksi dengan baik.
v Populasi cenderung menjadi stabil dalam jumlah kecuali ada fluktusi musiman.
v Sumber daya lingkungan adalah terbatas.
v Individu-individu dalam suatu populasi sangat jauh berbeda dalam hal ciri-ciri khasnya; tidak akan ada dua individu yang persis sama.
v Banyak diantara variasi tersebut dapat diturunkakan.
Ketiga interferensi/kesimpulan tersebut adalah
o Produksi individu yang lebih banyak dibandingkan dengan yang dapat didukung oleh lingkungan akan mengakibatkan adanya persaingan untuk mempertahankan keberadaan individu di dalam populasi itu, sehingga hanya sebagian keturunan yang dapat bertahan hidup pada setiap generasi.
o Kelangsungan hidup dalam perjuangan untuk mempertahankan hidup tidak terjadi secara acak, tetapi bergantung sebagian pada susunan sifat terwarisi dari individu yang bertahan hidup. Individu yang mawarisi sifat-sifat baik yng membuat individu-individu tersebut cocok dengan lingkungannya, besar kemungkinan akan emnghasilkan lebih banyak keturunan dibandingkan dengan individu yang kurang cocok sifatnya terhadap lingkungannya.
o Kemampuan individu untk bertahan hidup dan bereproduksi yang tidak sama ini akan mengakibatkan suatu perubahan secara bertahap dalam suatu populasi dan sifat-sifat menguntungkan akan berakumulasi sepanjang generasi.
c. Seluk beluk seleksi alam
Dalam hal ini, ada beberapa seluk beluk seleksi alam. Salah satunya adalah pentingnya populasi dalam evolusi. Suatu populasi adalah satuan terkecil yang dapat berkembang. Seleksi alam melibatkan interaksi antara individu organisme dan lingkungannya, tetapi individu tidak berkembang. Evolusi diukur hanya sebagai perubahan dalam pembagian relative variasi dalam suatu populasi selama beberapa generasi.
Hal pokok lainnya mengenai seleksi alam adalah bahwa seleksi alam hanya akan memperbesar atau memperkecil variasi yang dapat di wariskan. Kita harus membedakan antara adaptasi yang didapatkan oleh organisme melalui tindakannya sendiri, dan adaptasi yang diwariskan yang berkembang dalam suatu populasi selama beberap generasi sebagai akibat dari seleksi alam.
Juga harus ditekankan bahwa ciri khas seleksi alam tergantung pada situasi: faktor lingkungan berbeda dari satu tempat ketempat lain dari dari suatu masa ke masa yang lain.suatu adaptasi dalam suatu situasi mungkin tidak berguna atau bahkan merugikan pada keadaan lain yang berbeda.
2.2 Bukti-Bukti Teori Evolusi Darwin
Beberapa orang menolak Darwinisme dan menganggapnya sebagai hanya sebuah teori. Taktik untuk menghilangkan pandangan evolusi mengenai kehidupan ini memiliki dua kekurangan yaitu; pertama, taktik tersebut gagal untuk memisahkan dua tuntutan Darwin, bahwa spesies modern berkembang dari bentuk nenek moyangnya, dan bahwa seleksi alam adalah mekanisme utama untuk evolusi ini. Kesimpulan bahwa kehidupan telah berkembang didasarkan pada bukti-bukti sejarah.
Teori adalah unpaya kita untuk menjelaskan fakta-fakta dan memadukannya dengan konsep yang mencakup semuanya. Teori ilmiah mengalami evaluasi dan pembaharuan secara terus menerus. Sesungguhnya, para saintis akan membuang konsep evolusi seandainya faktanya tidak konsisten dengan pengamatan dilapangan. Namun demikian, seiring dengan berkembangnya biologi, pnemuan-penemuan baru; termasuk penyingkapan rahsia biologi molekuler kian akan mensahkan dan menguatkan pandangan Darwinian mengenai kehidupan.
a. Biogeografi
Penyebaran geografis spesies (biogeografi) merupakan hal yang pertama kali memberi ide akan adanya evolusi kepada Darwin. Pulau-pulau memiliki banyak spesies tumbuhan dan hewan yang bersifat indigenous (asli, tidak ditemukan d tempat lain). Namun sangat erat erat hubungan kekerabatannya dengan spesies di daratan utama terdekat di pulau-pulau sekitarnya.
Beberapa pertanyaan muncul. Kenapa dua pulau dengan lingkungan yang sangat mirip di tempat yang berbeda di Bumi ini dihuni bukan oleh spesies yang memiliki hubungan kekerabatan yang sangat erat, tetapi oleh spesies secara taksonomi terkait dengan tumbuhan dan hewan pada dareatan yang terdekat, dimana liungkungan seringkali sangat berebeda.
Meskipun pola geografi seperti itu tidak sesuai jika seseorang membayangkan bahwa spesies di tempatkan satu persatu dalam lingkungan ynag sesuai, namun pola tersebut masuk akal dalam konteks sejarah evolusi. Dalam pandangan evolusi, kita menemukan spesies modern dimana mereka berada karena mereka berkembang dari nenek moyang yang menempati daerah itu. Sudut pandang evolusi biografi meramalkan bahwa armadillo (mamalia berkulit keras yang hanya hidup di Amerika) modern adalah turunan yang termodifikasi dari spesies yang terlebih dahulu menempati benua tersebut, dan bukti fosil menguatkan bahwa nenek moyang sepeti itu memang benar pernah ada.
b. Catatan fosil
Pergantian (suksesi) bentuk fosil sesuai dengan apa yang diketahui dari jenis bukti lain mengenai cabang utama keturunan dalam pohon kehidupan. Sebagai contoh, bukti-bukti dari bidang biokimia, biologi molekuler, dan biologi sel menempatkan prokariota sebagai nenek moyang semua kehidupan dan memperkirakan bahwa bakteri mendahului semua kehidupan eukariota dalam catatan fosil. Contoh lain adalah penampakan kronologis dari kelas-kelas hewan vertebrata yang berbeda-deda dalam catatan fosil.
Fosil ikan adalah yang paling tua dari semua vertebrata lain, kemudian disusul oleh amfibia, di ikuti oleh reptilian, kemudian mamalia dan burung. Urutan ini sesuai dengan sejarah keturunan vertebrata sebagaimana diungkapkan oleh banyak jenis bukti yang lain. Sebaliknya, ide bahwa semua spesies diciptakan satu demi satu pada waktu yang hampir samamempertkirakan bahwa semua kelas vertebrata akan muncul pertama kali pada catatan fosil pada bebatuan dalam umur yang sama, yang ternyata berlawanan dengan apa yang sesungguhnya diamati oleh para ahli paleontology.
Pandangan Darwinian mengenai kehidupan juga memperkirakan bahwa transisi evolusioner harus meninggalkan tanda-tanda dalam catatan fosil. Para ahli paleontology telah menemukan banyak bentuk transisi yang menghubungkan fosil yang lebih dengan spesies modern.
Sebagai contoh fosil peralihan menghubungkan masa lalu dengan masa sekarang yaitu seekeor ikan paus yang berkembang dari nenek moyang yang hidup di darat, suatu transisi evolusioner yang mninggalkan banyak tanda, termasuk bukti-bukti fosil. Para ahli paleontology yang melakukan penggalian di Negara mesir dan Pakistan berhasil mengidentifikasi paus yang sudah punah yang memiliki tungkai belakang.
Pada bebarapa tahun ini, para peneliti telah menemukan paus yang telah menjadi fosil yang menghubungkan mamalia air dengan leluhurnya yang hidup di daratan yang di tunjukkan pada tulang kaki basilosaurus yang sudah menjadi fosil, salah satu dari paus kuna itu. Paus tersebut sudah menjadi hewan air yang tidak lagi menggunakan kakinya untuk menyokong badannya dan untuk berjalan. Tulang kaki paus fosil yang lebih tua yang bernama ambulocetus lebih kuat dan kokoh. Ambulocetus mungkin merupakan hewan amfibia yang hidup di darat dan di air.
c. Anatomi Perbandingan
Pewarisan dengan modifikasi sangat jelas terlihat pada kemiripan anatomi pada spesies yang di kelompokkan ke dalam kategori taksonomi yang sama. Sebagai contoh, banyak elemen kerangka yang sama menyusun tungkai depan manusia, kucing, paus, kelelawar dan semua mamalia lain, meskipun tungkai tersebut memiliki fungsi yang sangat berbeda.
Tentunya, cara terbik untuk membangun infrastruktur sayap kelelawar bukan merupakan cara terbaik untuk membangun sirip paus. Perbedaan anatomi seperti itu tidak masuk akal jika struktur tersebut secara unik direkayasa dan tidak saling berhubungan.
Suatu penjelasan yang lebih mungkin adalah bahwa kemiripan dasar tungkai depan ini adalah akibat dari di turunkannya senua mamalia dari satu nenek moyang yang sama. Tungkai depan, sayap, sirip, dan lengan dari mamalia yang berbeda adalah variasi dari pokok struktur dasar yang sama. Akibat fungsi yang berbeda pada setap spesies, maka struktur dasarnya dimodifikasi.
Kemiripan dalam ciri khusus yang dihasilkan dari nenek moyang yang sama disebut homologi. Dan tanda-tanda anatomis evolusi seperti itu disebut struktur homolog. Anatomi perbandingan konsisten dengan semua bukti-bukti lain dalam memberikan bukti bahwa evolusi adalah suatu proses pemodelan ulang dimana struktur nenek moyang yang berfungsi dalam suatu kapasitas di modifikasi ketika mereka mengemban fungsi baru.
Beberapa struktur homolog yang paling menarik adalah organ vestigial (organ sisa yang tidak berguna lagi) yaitu struktur dengan arti penting yang kecil, jika ada, bagi organisme tersebut, organ vestigial merupakan sisa-sisa historis dari struktur yang memiliki fungsi penting pada leluhurnya.
d. Embriologi Perbandingan
Organisme yang memiliki hubungan kekerabatan yang dekat akan mengalami tahapan yang sama dalam perkembangan embrionya. Semua embrio vertebrata akan mangalami suatu tahapan dimana mereka memiliki kantung insang pada bagian samping tenggorokannya. Pada tahapan perkembangan ini, persamaan pada ikan, katak, ular, burung, manusia, dan semua vertebrata lain jauh lebih terlihat dari pada perbedaannya. Sementara perkembangan itu berlangsung, berbagai vertebrata menjadi semakin bervariasi, dan akhirnya akan memiliki ciri khas pada kelasnya. Pada ikan, misalnya kantung insang berkembang menjadi insang; pada vertebrata darat, struktur embrio tersebut akan dimodifikasi untuk fungsi-fungsi lain, seperti saluran eustachius yang menghubungkan telinga tengah dengan tenggorokan pada manusia.
Embriologi perbandingan seringkali membentuk homologi pada beberapa struktur, seperti kantong insang, yang menjadi sedemikian berubah pada perkembangan selanjutnya sehingga asal mulanya yang sama tidak lagi terlihat dengan jelas saat membandingkan bentuknya yang telah berkembang secara lengkap.
Dilihat dari prinsip Darwinian mengenai pewarisan yang di modifikasi, banyak ahli embriologi pada akhir abad ke-19 mengemukakan pandangan yang ekstrim yaitu “ontogeny memberikan ikhtisar filogeni”. Pendapat ini menganggap bahwa perkembangan organisme individu (antogeni) merupakan pengulangan sejarah evolusioner spesies (filogenni).
Teori rekapitulasi ini adalah suatu pernyataan yang berlebihan. Meskipun semua vertebrata memiliki banyak ciri perkembangan embrio yang sama, tidak benar bahwa mamalia pertama-tama mengalami “tahapan perkembangan ikan”, kemudia tahapan amfibia, dan seterusnya. Ontogeny dapat memberikan petunjuk untuk filogeni tetapi penting untuk di ingat bahwa semua tahapan perkembangan bisa berubah sepanjang rentetan proses evolusi yang panjang.
e. Biologi Molekuler
Hubungan evolusi diantara spesies di cerminkan dalam DNA dan proteinnya, dalam gen dan produk gennya. Jika dua spesies memiliki pustaka gen dan protein dengan urutan monomer yang sangat bersesuaian, urutan itu pasti disalin dari nenek moyang yang sama. Jika dua pragraf yang panjang adalah sama meskipun ada penggantian satu huruf dibeberapa tempa, tentunya kita akan mengatakan bahwa paragraph itu berasal dari satu sumber yang sama.
Biologi molekuler mendukung pemikiran Darwin yang paling berani, bahwa semua bentuk kehidupan saling berhubungan sampai tingkat tertentu melalui cabang-cabang keturunan dari organisme yang paling awal. Bahkan organisme yang secara taksonomi berbeda jauh seperti manusia dan bakteri, memiliki bebrapa protein yang sama, misalnya sitokrom suatu protein yang terlibat dalam respirasi seluler pada semua spesies aerob. Mutasi telah menggantikan asam amino di beberapa tempat pada protein tersebut selama perjalanan panjang evolusi, tetapi molekul sitokrom pada semua spesies sangat mirip dalam struktur dan fungsi.
Suatu kode genetik yang sama merupakan bukti yang tak terbantahkan mengenai fakta bahwa semua kehidupan saling berhubungan. Dengan demikian, bahsa kode genetik telah diturunkan melalui semua cabang pohon kehidupan sejak permulaan munculnya kode genetik tersebut pada bentuk kehidupan yang lebih awal. Dengan demikian, biologi molekuler telah menambahkan babak terbaru pada bukti-bukti bahwa evolusi adalah dasar kesatuan dan keanekaragaman kehidupan.
2.3 Pendapat Ahli dan Penemuan-penemuan Ilmiah Berkaitan dengan Teori Evolusi Charles Darwin.
Secara umum, tanggapan ahli lain terhadap teori Darwin adalah:
a. Mendapat tantangan terutama dari golongan agama, dan yang menganut paham teori penciptaan (Universal Creation).
b. Mendapat pembelaan dari penganut Darwin antara lain , Yoseph Hooker dan Thomas Henry Huxley (1825-1895).
c. Mendapat kritik dan pengkayaan dari banyak ahli antara lain Morgan (1915), Fisher (1930), Dobzhansky (1937), Goldschmidt (1940) dan Mayr (1942).
Salah satu seseorang yang mengkritik sekaligus menentang secara tajam pemikiran Darwin ini adalah Harun Yahya. Harun Yahya yang mempunyai nama asli Adnan Oktar ini dilahirkan di Ankara pada tahun 1956.
Didalam E-Book nya, yang di download pada tanggal 18-03-2012 melalui situs id.harunyahya.com, Yahya yang merupakan seorang penulis dan kreasionis islam asal Turki ini menuliskan bahwa, di saat gema buku Darwin tengah berkumandang, seorang ahli botani Austria bernama Gregor Mendel menemukan hukum penurunan sifat pada tahun 1865.
Meskipun tidak banyak dikenal orang hingga akhir abad ke-19, penemuan Mendel mendapat perhatian besar di awal tahun 1900-an. Inilah awal kelahiran ilmu genetika. Beberapa waktu kemudian, struktur gen dan kromosom ditemukan. Pada tahun 1950-an, penemuan struktur molekul DNA yang berisi informasi genetis menghempaskan teori evolusi ke dalam krisis. Alasannya adalah kerumitan luar biasa dari kehidupan dan ketidakabsahan mekanisme evolusi yang diajukan Darwin.
Perkembangan ini seharusnya membuat teori Darwin terbuang dalam keranjang sampah sejarah. Namun ini tidak terjadi, karena ada kelompok-kelompok tertentu yang bersikeras merevisi, memperbarui dan mengangkat kembali teori ini pada kedudukan ilmiah. Kita dapat memahami maksud upaya-upaya tersebut hanya jika menyadari bahwa di belakang teori ini terdapat tujuan ideologis, bukan sekadar kepentingan ilmiah.
Teori Darwin jatuh terpuruk dalam krisis karena hukum-hukum genetika yang ditemukan pada perempat pertama abad ke-20. Meskipun demikian, sekelompok ilmuwan yang bertekad bulat tetap setia kepada Darwin berusaha mencari jalan keluar. Mereka berkumpul dalam sebuah pertemuan yang diadakan oleh Geological Society of America pada tahun 1941.
Ahli genetika seperti G. Ledyard Stebbins dan Theodosius Dobzhansky, ahli zoologi seperti Ernst Mayr dan Julian Huxley, ahli paleontologi seperti George Gaylord Simpson dan Glenn L. Jepsen, dan ahli genetika matematis seperti Ronald Fisher dan Sewall Right, setelah pembicaraan panjang akhirnya menyetujui cara-cara untuk “menambal sulam” Darwinisme.
Kader-kader ini berfokus kepada pertanyaan tentang asal usul variasi menguntungkan yang diasumsikan menjadi penyebab makhluk hidup berevolusi Sebuah masalah yang tidak mampu dijelaskan oleh Darwin sendiri dan dielakkan dengan bergantung pada teori Lamarck.
Gagasan mereka kali ini adalah “mutasi acak” (random mutations). Mereka menamakan teori baru ini “Teori Evolusi Sintetis Modern” (The Modern Synthetic Evolution Theory), yang dirumuskan dengan menambahkan konsep mutasi pada teori seleksi alam Darwin. Dalam waktu singkat, teori ini dikenal sebagai “neo-Darwinisme” dan mereka yang mengemukakannya disebut “neo-Darwinis”.
Beberapa dekade berikutnya menjadi era perjuangan berat untuk membuktikan kebenaran neo-Darwinisme. Telah diketahui bahwa mutasi atau “kecelakaan” yang terjadi pada gen-gen makhluk hidup selalu membahayakan. Neo-Darwinis berupaya memberikan contoh “mutasi yang menguntungkan” dengan melakukan ribuan eksperimen mutasi. Akan tetapi semua upaya mereka berakhir dengan kegagalan total.
Mereka juga berupaya membuktikan bahwa makhluk hidup pertama muncul secara kebetulan di bawah kondisi-kondisi bumi primitif, seperti yang diasumsikan teori tersebut. Akan tetapi eksperimen-eksperimen ini pun menemui kegagalan. Setiap eksperimen yang bertujuan membuktikan bahwa kehidupan dapat dimunculkan secara kebetulan telah gagal.
Perhitungan probabilitas membuktikan bahwa tidak ada satu pun protein, yang merupakan molekul penyusun kehidupan, dapat muncul secara kebetulan. Begitu pula sel, yang menurut anggapan evolusionis muncul secara kebetulan pada kondisi bumi primitif dan tidak terkendali, tidak dapat disintesis oleh laboratorium-laboratorium abad ke-20 yang tercanggih sekalipun.
Teori neo-Darwinis telah ditumbangkan pula oleh catatan fosil. Tidak pernah ditemukan di belahan dunia mana pun “bentuk-bentuk transisi” yang diasumsikan teori neo-Darwinis sebagai bukti evolusi bertahap pada makhluk hidup dari spesies primitif ke spesies lebih maju. Begitu pula perbandingan anatomi menunjukkan bahwa spesies yang diduga telah berevolusi dari spesies lain ternyata memiliki ciri-ciri anatomi yang sangat berbeda, sehingga mereka tidak mungkin menjadi nenek moyang dan keturunannya.
Neo-Darwinisme memang tidak pernah menjadi teori ilmiah, tapi merupakan sebuah dogma ideologis kalau tidak bisa disebut sebagai semacam "agama". Oleh karena itu, pendukung teori evolusi masih saja mempertahankannya meskipun bukti-bukti berbicara lain. Tetapi ada satu hal yang mereka sendiri tidak sependapat, yaitu model evolusi mana yang “benar” dari sekian banyak model yang diajukan. Salah satu hal terpenting dari model-model tersebut adalah sebuah skenario fantastis yang disebut “punctuated equilibrium”.
Sebagian besar ilmuwan yang mempercayai evolusi menerima teori neo-Darwinis bahwa evolusi terjadi secara perlahan dan bertahap. Pada beberapa dekade terakhir ini, telah dikemukakan sebuah model lain yang dinamakan “punctuated equilibrium”. Model ini menolak gagasan Darwin tentang evolusi yang terjadi secara kumulatif dan sedikit demi sedikitenam masa. hal ini sesuai dengan firman Allah :
"Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada iantara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam diatas Arsy (Dialah) Yang Maha Pemurah, maka tanyakanlah itu kepada Yang Maha Mengetahui." (QS. Al Furqaan (25) : 59).
Keenam masa itu adalah Azoikum, Ercheozoikum, Protovozoikum, Palaeozoikum, Mesozoikum, dan Cenozoikum. Dari penelitian para ahli, setiap periode menunjukkan perubahan dan perkembangan yang bertahap menurut susunan organisme yang sesuai dengan ukuran dan kadarnya masing-masing. (tidak berevolusi).
"...dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya" (QS. Al Furqaan (25) : 2).
Dari perpaduan antara Al Qur’an dengan hasil penelitian ini maka teori evolusi Darwin tidak dapat diterima. Dari penelitian membuktikan bahwa kurun akhir (cenozoikum) adalah masa dimana mulai muncul manusia yang berbudaya dan Allah menciptakan lima kurun sebelumnya lengkap dengan segala isinya adalah untuk memenuhi kebutuhan yang diperlukan oleh manusia. Hal ini dijelaskan oleh Allah di dalam salah satu firman-Nya :
"Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui atas segala sesuatu" (QS Al Baqarah (2) : 29).
Kemudian di dalam surat Al Baqarah ayat 31 s/d 32 Allah berfirman :
"Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman : ‘Sebutlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!’. Mereka menjawab : ‘Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain daripada apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana (QS. Al Baqarah (2) : 31-32).
Untuk memelihara kelebihan ilmu yang dimiliki oleh Adam a.s maka Allah berkenan menurunkan kepada semua keturunan adam agar derajat mereka lebih tinggi daripada makhluk yang lain. Apabila kita menilik kepada literatur-literatur yang berkaitan dengan masalah antropologi, maka akan tampak sekali keragu-raguan dari para ahli antropologi sendiri, apakah Homo Sapiens itu benar-benar berasal dari Pithecanthropus dan Sinanthropus ?
Setelah melalui berbagai pertimbangan akhirnya para ahli mengambil kesimpulan bahwa Pithecanthropus dan Sinanthropus bukanlah asal (nenek moyang) dari Homo Sapiens (manusia), tetapi keduanya adalah makhluk yang berkembang dengan bentuk pendahuluan yang mirip dengan manusia kemudian musnah.
"Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat : ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi’. Mereka berkata : ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?’. Tuhan berfirman : ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tdak kamu ketahui’."(QS. Al Baqarah (2) : 30).
Dari ayat ini banyak mengandung pertanyaan, siapakah makhluk yang berbuat kerusakan yang dimaksud oleh malaikat pada ayat diatas. Dalam literatur Antropologi memang ada jawabannya yaitu sebelum manusia Homo Sapiens (manusia berbudaya) memang ada makhluk yang mirip dengan manusia yang disebut Pthecanthropus, Sinanthropus, Neanderthal, dan sebagainya yang tentu saja karena mereka tidak berbudaya maka mereka selalu berbuat kerusakan seperti yang dilihat para malaikat.
Nama-nama mkhluk yang diungkapkan para ahli antropologi diatas dapat pula ditemui dalam pendapat para ahli mufassirin. Salah satu diantaranya adalah Ibnu Jazir dalam kitab tafsir Ibnu Katsir mengatakan :"Yang dimaksud dengan makhluk sebelum Adam a.s diciptakan adalah Al Jan yang kerjanya suka berbuat kerusuhan"
BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Darwin menjelaskan bahwa evolusi makhluk hidup terjadi melalui seleksi alam. Setiap makhluk hidup bersaing dalam lingkungannya untuk tetap hidup dan melestarikan populasinya. Di sisi lain, teori tersebut menunjukan bahwa makhluk hidup berasal dari makhluk hidup sebelumnya, yang saya nilai menjadi sisi imajinatif yang ditawarkan oleh Darwin sendiri. Teori ini masih banyak diperdebatkan oleh banyak kalangan baik ilmuan maupun dari agama.
3.2 Saran
Melalui makalah ini, penulis mengharapkan para pembaca untuk bisa mengembangkan maksud dari evolusi dan juga ikut berperan dalam menggali evolusi di muka bumi ini. Yang mana telah kita ketahui bahwa evolusi adalah suatu hal yang belum jelas dan dapat di buktikan secara langsung. Oleh karena itu, teori-teori tentang evolusi janganlah dijadikan sebagai sebuah momen untuk berperang pemikiran karena akan menimbulkan perpecahan.
DAFTAR PUSTAKA
https://grelovejogja.wordpress.com/2007/12/03/teori-evolusi-charles-darwin/
http://helinahelin98.blogspot.co.id/2014/11/teori-evolusi-charles-darwin_81.html
http://alvitaniamullah.blogspot.co.id/2012/12/makalah-teori.html
http://www.biologikesehatan.com/2015/05/teori-evolusi-biologi.html
http://www.biologi-sel.com/2013/09/teori-evolusi-charles-darwin.html
http://www.biologikesehatan.com/2015/05/teori-evolusi-biologi.html
Comments
Post a Comment